Ratu Boko dalam Sejarah

Keraton Ratu Boko dibangun pertama kali oleh seorang Raja yang bernama Rakai Panangkaran, Raja kedua Mataram Kuno. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya sebuah prasasti yang terdapat di kompleks Keraton Ratu Boko ini, nama prasasti tersebut adalah prasasti Abhyagiri Vihara (Biara damai di atas bukit) berangka tahun 793 Saka dan ada tiga fragmen prasasti yang berkaitan, ditemukan di dekat pintu masuk kompleks, prasasti ini mencatat bahwa pendirian Vihara ini didedikasikan untuk Bodhisattva, yang mungkin adalah Avalokitervara atau Manjusri.

Keraton Ratu Boko ini dijadikan tempat untuk dirinya menepi dari urusan dunia, di masa tuanya dia menjadi pendeta Buddha di Biara Abhyagiri yang secara etimologis, kata Abhya artinya tanpa, hanaya artinya damai, giri artinya gunung. Apabila disatukan bermakna bukit atau gunung yang penuh kedamaian tanpa ada gangguan. Sementara itu, kursi kekuasaan Mataram diserahkan kepada putranya yang bernama Rakai Panaraban. Pada masa pemerintahan Rakai Panaraban, ada perkembangan dari bangunan keraton Ratu Boko ini dengan dibangunnya gapura dan tembok benteng serta stupa-stupa kecil disekitar Keraton Ratu Boko ini. Hal ini dibuktikan dengan adanya suatu tulisan dari prasasti emas yang di dalamnya terdapat kata Panarabwan, yang mungkin merujuk kepada Rakai Panaraban.

lalu, muncul sebuah fakta baru bahwa bangunan yang awalnya sebagai vihara Buddha ini diubah menjadi sebuah kediaman ataupun keraton dari seorang penguasa yang bernama Kumbhayoni sang penguasa Walaing. Kumbhayoni tentu beragama Hindu karena dalam prasasti Pereng Ia mendirikan sebuah candi yang bernama Candi Bhadraloka[1] yang merupakan Candi bercorak agama Hindu yang diperkuat dengna adanya temuan Arca Wisnu dan Dewi Sri.

kompleks Keraton Ratu Boko. sc: gpsdesawisata.info

Kompleks Keraton Ratu Boko ini terdiri dari Gapura, Parit, Paseban, Candi Pembakaran, Goa, Pendopo, Kolom, Keputren, Arca, Stupa, Lingga Yoni.

[1] Bhadra= untung, makmur, berkah. Loka= dunia.

 

sc:

  • Dana, I Wayan. 2013. Keraton Ratu Boko: Budaya & Ekologi. Yogyakarta: Lembah Manah.
  • Jurnal UIN Yogyakarta. “Ratu Boko, Sejarah, dan Potret Keadaannya”.
  • Wawancara dengan Pak Wiharjanto, General Manager Keraton Ratu Boko.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *