Peringatan Hari Santri

Asal-usul istilah Kata “Santri” ternyata berasal dari bahasa Sanskerta loh gaes.. oh iya ada juga yang berpendapat bahwa kata “Santri” berasal dari bahasa Jawa.

Pertama, kita akan kupas kata “Santri” dari bahasa Sanskerta. Di dalam kamus bahasa Sanskerta yang disusun oleh Dr. Purwadi, M.Hum & Eko Priyo Purnomo, SIP penulis menemukan ada kata “Cantrik” yang artinya Murid, Siswa, atau Santri di Padepokan.

Sedangkan menurut C.C. Berg, istilah “santri” berasal dari kata shastri yang dalam bahasa India berarti “orang yang mempelajari kitab-kitab suci agama Hindu”.

Pendapat lain, istilah “Santri” berasal dari bahasa Jawa, yakni cantrik yang bermakna “orang atau murid yang selalu mengikuti gurunya” (Nurcholis Madjid lewat buku Bilik-bilik Pesantren: Sebuah Potret Perjalanan. 1999).

para santri. sc: islamsantun.org

Mengapa kata “Santri” ini berasal dari bahasa Sanskerta dan erat hubungannya dengan agama Hindu? Menurut pendapat penulis, karena pada masa awal sebelum Islam masuk di Pulau Jawa, agama Hindu dan Buddha menjadi agama mayoritas di pulau Jawa bahkan di seluruh wilayah Nusantara kala itu. Karena penduduk Jawa sudah menganut ajaran agama lain, sehingga akan sulit menerima ajaran baru.

Maka, para Wali memiliki cara tersendiri dalam menyi’arkan agama Islam di Jawa yaitu melalui akulturasi dengan budaya yang telah ada di Nusantara kala itu. Salah satunya yaitu penggunaan pesantren yang awalnya sebagai lembaga pendidikan Hindu, menjadi lembaga pendidikan Islam.

Bisa dikatakan bahwa proses pengislaman budaya Nusantara oleh para Wali terdahulu dibarengi dengan proses penusantaraan nilai-nilai Islam, sehingga keduanya melebur menjadi entitas baru.

Lalu ada pertanyaan lain yakni mengapa peringatan hari Santri di Indonesia diselenggarakan pada tanggal 22 Oktober?

Singkatnya karena diberlakukannya Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015 tentang Hari Santri.

Lalu muncul pertanyaan baru, yaitu mengapa Presiden memilih tanggal 22 Oktober?

resolusi jihad. sc: Tirto.Id

Hal ini mengacu pada peristiwa di tanggal yang sama dan tahun berbeda yakni pada 22 Oktober 1945.  pada saat itu PBNU yang mengundang konsul-konsul NU di seluruh Jawa dan Madura yang hadir pada tanggal 21 Oktober 1945 di kantor PB ANO (Ansor Nahdlatul Oelama) di Jl. Bubutan VI/2 Surabaya, berdasar amanat berupa pokok-pokok kaidah tentang kewajiban umat Islam dalam jihad mempertahankan tanah air dan bangsanya yang disampaikan Rais Akbar KH Hasyim Asy’ari, dalam rapat PBNU pada 22 Oktober 1945 yang dipimpin Ketua Besar KH Abdul Wahab Hasbullah, menetapkan satu keputusan dalam bentuk resolusi yang diberi nama “Resolusi Jihad Fii Sabilillah”  (https://www.nu.or.id/post/read/72250/resolusi-jihad-nu-dan-perang-empat-hari-di-surabaya-)

karena seruan jihad yang disampaikan pada 22 Oktober 1945 oleh KH. Hasyi Asy’ari untuk menolak kedatangan sekutu yang ingin merebut kembali kedaulatan bangsa Indonesia. Maka, dijadikanlah hari tersebut sebagai hari Santri karena agar para santri khususnya dan rakyat Indonesia umumnya dapat meneladani semangat jihad umat Islam dalam mempertahankan Indonesia dari serangan bangsa lain.

One Reply on “Peringatan Hari Santri”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *