Kebijakan Liberal di Sumatra Timur

Kebijakan Liberal di Sumatra Timur 

Belanda sebenarnya kurang berhasrat untuk mengekspansi wilayah luar jawa, karana efek perang diponegoro. Tapi semenjak Raja Brooke mengangkat dirnya sebagai raja Serawak, serta ditemukan bahan timah di Bangka Belitung, batu baraa di daerah Ombilin, Sumatra Barat, eams di kalbar, batu bara di kalimantan tenggara,  Belanda mulai terangsang untuk mengeksplorasi daerah luar Jawa. Aceh ingin ditaklukan sejak 1873. Deli terkenal dengan perkebunan tembakau sejak 1863.

Bermula ketika Jacob Nienhuis (pengusaha perkebunan Belanda) mengunjungi pantai timur Sumatra Utara untuk menyelidiki kemungkinan penanaman tembakau karan ada laporan dari Abdullah seorang Arab yang bekerja untuk sultan Deli. Abdullah bercerita bahwa tembakau Deli itu sangat unggul mutunya.  Nienhuis akhirnya menanam sendiri tembakau di Deli.

Kesulitan Nienhuis adalah soal tenaga kerja. Ia terpaksa pergi ke Penang untuk mempekerjakan orang-orang China. Nienhuis berhasil menjual 189 bal tembakau ke belanda dan mendapat untung yang gede. Raja Willem I merespon Nienhuis dengan membuat Nederlandsche Handels Maatschappij (Badan Usaha Dagang Belanda). Karna tanah Deli mulai kurang subur untuk tembakau maka tembakau di tanam di daerah lain yaitu di Langkat dan Serdang.

Namun sayang beribu sayang tahun 1891, terjadi kelebihan produksi (mencapai 50.ooo bal ) menyebabkan harga di pasaran dunia jatuh mencapai 50%, di bawah harga tahun sebelumnya. faktor krisis ini adalah

  1. Pasar dunia mengalami kelebiahan penawaran
  2. UU Tarif Bea Masuk Mc. Kinley dinaikan hingga gagal ekspor ke AS (krisis 1891)

Selain tembakau, di Sumatara Timur juga ditanam kopi dan karet jenis Hevea Brasiliensis di daerah Serdang. Yang menarik adalah pekerja yang di datangkan merupakan orang Cina pada tahun 1871, mencapai 3.000 buruh Cina.

Pada tahun 1888 DPV (Deli Planters Venereging)  mendirikan suatu Biro imigrasi (Imigratie Bureau) untuk mengurus secara langsung calon pekerja dari Cina. 1.152 pekerja di datangakan dari Cina

1889 pekerja Cina mencapai 5.167

1890 mencapai 6.666 pekerja

Sebagian kecil dari para pekerja itu pulang ke cina, sebagiannya lagi menetap di Sumatra timur. Tenaga kerja China ini mendapat sistem kontrak, seperti yang dinyatakan oleh Hla Myint berikut

“Sistem kontrak adalah suatu sistem dimana pihak majikan membayar biaya pengangkutan pekerja-pekerja dari tempat asal mereka tempat bekerja, sedangkan para pekerja mengikat diri bekerja untuk masa beberapa tahun dengan upah tertentu.

Tahun 1888 pemerintah membuat peraturan Koeli Ordonantie berisi hukuman bagi pelanggar kontrak kerja baik itu untuk majikan maupun buruh. Hukumannya bernama poenalie sanctie membuat ketentuan bahwa pekerja-pekerja yang melarikan diri dari perkebunan perkebunan di Sumatra Timur dapat ditangkap oleh Polisi.

poenalie sanctie  di tentang oleh seorang pengacara Belanda bernama J. Van den Brand yang mengeluarkan pamflet berjudul De Millioenen van Deli (Jutaan dari Deli). dalam tulisan itu ia mengungkapkan kepada rakyat Belanda keadaan kerja yang buruk sekali di Sumatra Timur yang tidak berbeda dengan perbudakan . Pamflet J. Van den Brand ini menimbulkan kemarahan ynag besar di kalangan masyarakat Belanda. (SNI IV. 2010:387-396)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *