Posted on Leave a comment

Kebijakan Liberal di Jateng dan Jatim

Kebijakan Liberal di Jateng dan Jatim

Di bawah Undang-Undang Agraria 1870, para Pengusaha Belanda dapat menyewa tanah dari penduduk Jawa atau dari pemerintah Hindia Belanda untuk perkebunan-peerkebunan besar. Yang mengalami perkembanagan pesat adalah gula, yang termasuk dalam produk ekspor paling penting untuk pemerintah Hindia Belanda waktu itu. 

Dengan tersedianya modal swasta yang besar waktu itu, perkebunan perkebunan gula dan perkebunan perkebunan lainnya dapat mengimnpor mesin perlengkapan lainnya, hal ini ynag menyebabkan peningkatanm produksi perkebunan tersebut. Hal ini dapat dilihat dari data-data berikut.

  • Tahun 1870 luas tanah yang di tanami gula adalah 54.176 bahu. Tahun 1900 jadi 128.301 bahu.
  • Tahun 1870 produksi gula adalah 2.440.000. Tahun 1900 jadi 12.050.544 pikul

Perkebunan teh terutama setelah perkebunan-perkebunan telah di tanami dengan teh Assam. Hasil perkebunan lain yang menguntungkan adalah tembakau. Tembakau ini di tanam di Surakarta, Yogyakarta dan Besuki. Perkebunan tembakau Besuki bekerja sama erat dengan penduduk sekitar yang juga menanam tembakau yang kemudian disortir dan diolah di perkebunan-perkebunan besar. Modal swasta Belanda mendirikan perkebunan-perkebunan di sekitar Deli (Sumatra Timur).

Tanaman-tanaman lain ynag juga menguntungkan kaum swasta adalah kopi dan kina. Di masa liberal ini Indonesia terkenal dengan negara kina, karna 90% kina dunia di suplai oleh jawa. Sementara itu, kopi tidak terlalu mengalami perkembangan yang pesat, malah stagnan seperti yang terjadi pada zaman cuulturestelsel. (SNI IV. 2010:377)

Nah guyys perkebunan teh,kopi, tembakau, gula mengalami perkembangan yang sangat pesat antara tahun 1870-1885. dimasa itu para pemilik kebun mengalami masa yang paling indah di dunia dimana mereka mendapat keuntungan yang sangat-sangat besar dari penjualan-penjualan perkebunan di pasaran dunia. Dibukanya terusan Suez di Mesir 1869 menyebabkan distribusi barang dapat dipersingkat.

Sangat disayangkan setelah tahun 1885 perdagangan mulai menyurut karna jatuhnya harga kopi dan gula di pasaran dunia. Menyusul tahun 1891 harga tembakau juga jatuh sehingga sangat membahayakan keberlangsungan perkebunan di Deli. Harga gula jatuh di pasaran dunia karna mulai populernya penanaman beet sugar (Gula Bit) yang di tanam di negara Eropa sehingga tidak memerlukan lagi gula dari Indonesia.

Faktanya sejak 1885 perusahaan-perusahaan besar mengalami krisis pemasaran, apakah berefek kepada pembiayaan usaha mereka? untuk menjawab itu pelu diketahui bahwa yang membiayai perkebunan-perkebunan besar tersebut adalah bank-bank perkebunan (cuulturebanken) yang bergerak secara otonom biasanya sih bank-bank itu memberiakan peminjaman kredit ke perusahaan-perusahaan besar tersebut. So, dengan turunnya harga tanaman perkebunan menjadi pukulan yang sangat menyakitkan bagi Cuulturebanker, akhirnya dengan terpaksa mereka mereorganisasi lagi dari yang tadinya perkebunan itu milik individu menjadi milik perseroan terbatas.

Di akhir abad 19, paham ekonomi liberal tidak laku lagi, ada paham yang baru yaitu ekonomi yang Terpimpin. Jadinya gini gan, kehidupan ekonomi Hindia Belanda (Indonesia) terspesial di Jawa, dikendalikannya oleh kaum kapitalis belanda (Industrial dan finansial) tidak di kasih lagi ke si swasta.  Pusatnya dimana? Pusat dari kaum kapitalsis ini ada di Belanda dan negara eropa lain. (SNI IV. 2010:379)

Bagaimana dengan kesejahteraan rakyat Jawa waktu itu??

Sungguh miris gan disaat orang Eropa dan China penganut liberal sangat bahagia, rakyat jawa malah menderita. Hal ini dapat dilihat dari penelitian Widjojo Nitisastro menganai pertumbuhan penduduk Jawa setelah tahun 1880 yang menurun dibanding masa sebelumnya. Dan produksi bahan makanan juga malah lebih rendah dari pertumbuhan penduduk. Belanda malah mentingin peningkatan jumlah ekspor hasil perkebunan.

Produksi beras menurun dan upah juga menurun, coba bayangin gan, pada jaman Tanam Paksa uang sewa tanah sebesar f42,48 untuk satu bahu, di jaman liberal cuma dibayar f25 untuk satu bahu. Pihak kerajaan Belanda Protestan sebenarnya sudah ngebentuk Mindere Walvaarts Commisie (Panitia Pemerosotan Kemakmuran). Penitia tersebut menemukan fakta bahwa penduduk mengalami penciutan dalam penghasilan yang diperoleh dari kegiatan tradisional seperti kerajinan tangan sebagai akiabt dari impor barang luar negri yang kualitasnya lebih unggul. Pembangunan rel kereta api juga menyebabkan penciutan dalam hal penghasilan dari pengangkutan gerobak. kemiskinan orang jawa disebabkan pengangguran dan kekurangan kerja alternatif.

Akibat dari merosotnya kemakmuran juga berdampak pada impor barang seperti tekstil yang berkurang pada akhir abad ke 19 dibanding tahun-tahun sebelumnya. Impor beras juga berkurang.

  • 1875 impor bahan tekstil (kapas) dan beras sebesar f59,9 juta,
  • 1900 impor teksttil dan beras berjumlah f53 juta.
  • Impor barang-barang Eropa malah ningkat dari f5,9 jadi f26,7 juta.

menurut Mindere Walvaarts Commisie,  pada awal abad 20, pendapatan rata-rata suatu rumah di jawa adalah f80 untuk setahun. dan harus bayar pajak f16 untuk pemerintah Belanda. Berikut adalah faktor-faktor kemerosotan kesejahteraan penduduk

  1. Jumlah penduduk jawa meningkat , produksi pertanian menurun.
  2. Adanya kerja rodi untuk Belanda dan pemimpin lokal menyebabkan motivasi sangat berkurang
  3. Jawa harus menanggung burder of empire , yaitu harus menanggung beban finansial untuk daerah lain di Nusantara (menurut Gonggrijjp)
  4. Pajak yang regresif (sangat memberatkan golongan rendah)
  5. Efek krisis 1885 menyebabkan upah buruh di perkecil.(SNI IV. 2010:381-383)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *