Depresi Ekonomi 1930

Apa itu Depresi Ekonomi?

Depresi ekonomi 1930 adalah sebuah depresi terhebat dalam sejarah tatanan ekonomi dunia. Periode itu dikenal dengan sebutan “the Great Depression” yang menurut kebanyakan pengamat terjadi antara tahun 1929 dan 1939. Meskipun aspek-aspek ekonomi dunia mulai pulih pada tahun 1936, tingkat pengangguran yang tinggi tetap bertahan hingga periode Perang Dunia Kedua. (https://notordinaryblogger.com/depresi-ekonomi-1930-pelajaran-apa-yang-bisa-diambil/)

Depresi Ekonomi di negri Paman Sam

Kenapa penulis mengambil materi Depresi Ekonomi di negri paman Sam?, kenapa tidak langsung saja ke Depresi di Hindia Belanda (Indonesia), Tidak lain karna penjelasan Bu dosen yang nyebutin bahwa yang paling parah terdampak depresi ekonomi 1930 ini adalah Amerika Serikat. Buat para pembaca yang penasan seberapa parahnya depresi ekonomi di paman sam tersebut, disarankan untuk melihat  film The Big Short. Nah guys film The Big Short ini diluncurkan tahun 2015 dan kabar baiknya  salah satu pemeran film ini adalah  Brad Fit.

Film The Big Short
Sc pic : Amazon.com

Latar belakang Depresi Ekonomi di Amerika Serikat 

Depresi ekonomi di Amerika Serikat ini sering di sebut juga dengan Krisis Malaise. Krisis Malaise ini dengan ganasnya menyerang ekonomi Amerika Serikat yang pada waktu itu sedang dipimpin oleh Herbert Hoover. Awal mula mimpi buruk ekonomi ini adalah  pada 24 oktober 1929 ketika terjadi pelepasan saham secara masif. (Nope saham adalah alat bukti kepemilikan atas sebuah perusahaan/badan usaha sc:moneysmart.id

Setelah pelepasan saham, keadaan  di Amerika Serikat sangatlah menghawatirkan, gimana tidak,  saat itu nilai saham anjlok, kredit macet, perusahaan bangkrut, hingga masa depan rakyat Amerika jadi suram. Puncaknya pada tahun 1933, banyak Bank yang ditutup.

Sc infografis : Tirto.id

Bagaimana dengan Depresi Ekonomi di Indonesia (Hindia Belanda)???

Depresi ekonomi ini terjadi melanda dunia pada tahun 1930 an. Hal ini diawali dengan krisis akibat kejatuhan Wall Street pada bulan oktober 1929. Hal ini juga efek kepada Indonesia dimana Indonesia yang mulai merasakan kenikmatan ekonomi di tahun 1920 tidak dapat merasakan kenikmatan tersebut.  ( Ricklefs. 2008: 399)

Tanaman bit merah yang menjadi bahan dasar gula bit. tanaman ini berasal dari pesisir barat dan selatan eropa, Swedia dan kepulauan laut mediteriania .sc pic:bitmerah.blogspot.com

Harga komoditi di Indonesia mulai mengalami tren yang menurun dan pasar untuk ekspor gula menciut karena produksi gula bit Eropa meluas dimana-mana terutama di Inggris dan Jepang. Namun tak ada yang siap untuk menghadapi apa yang terjadi pada bulan oktober 1929. Indonesia yang sangat tergantung kepada ekspor terutama pada produk minyak bumi dan pertanian.

Pada tahun 1930 sebanyak 52% dari produk-produk ekspor tersebut di ekspor kepada Eropa dan Amerika Utara. Krisis ekonomi di kedua daratan ini yang berakibat diberlangsungkannya kebijakan proteksi secara menyeluruh , di tambah dengan harga-harga yang menurun, tiba-tiba menjerumuskan Indonesia kedalam suatu krisis ekonomi yang tak pernah sepenuhnya teratasi sebelum penaklukan oleh bangsa Jepang pada tahun 1942.

Fluktuasi harga tadinya telah menjadi penomena umum tetapi sekarang seluruh harga di Indonesia menunjukan penurunan yang akhirnya menimbulakn bencana. Dimulai dari tahun 1929, harga ekspor Indonesia menurun drastis. pada tahun 1935, Nilai ekspor Indonesia hanya 32% dari nilai ekspor tahun 1929. Volume ekspor menurun karna menciutnya pasar dan karna diberlakukannya proteksi . Industri minyak bumi menambah produksi untuk mengatasi harga-harga yang sedang turun begitu juga yang terjadi pada produksi karet dan kopra dan hasil tanaman lainnya yang telah memberikan lapangan pekerjaan kepada rakyat Indonesia menghadapi bencana depresi Ekonomi.

Pada tahun 1932, harga karet hanya 16% dari harga tahun 1929.

Pada tahun 1934 ada 200.000 hektar ladang tebu ynag digarap untuk memproduksi gula , namun pada tahun 1939 hanya ada 90.000 hektar. Banyak para pekerja yang di PHK dan gaji ynag di bayarkan dalam industri berkurang hingga 90%. Akibat depresi ekonomi ini menyebabkan ekspor Indonesia tidak didominasi oleh gula dan kopi. Orang-orang jawa yang bertransmigrasi di perkebunan-perkebunan Sumatra Timur pulang kampung karna kesempatan kerja sudah tidak ada lagi.

Pada tahun 1930an ada 336.000 pekerja kebun di Sumatra Timur.

Pada tahun 1934, angka ini menurun menjadi 160.000 saja. Hal ini mengakibatkan pendapatan daerah yang berada di luar jawa sangat merosot dibandingkan dengan yang di Jawa , tapi krisis memang memukul semua wilayah.

Karna ekspor turun, impor pun di kurangi termasuk bahan makanan. Padahal pendapatan daerah itu berasal dari restribusi pajak. Hal itu menyebabkan Batavia mengalami krisis pendapatan. Akhirnya pajak tanah dinaikan dan rekrutmen pegawai sipil dihentikan total. Hal ini menyebabkan masalah pengangguran bagi penduduk indonesia yang telah belajar secara modern, namun disana ada kesempatan ketika para pegawai eropa yang di bayar dengan gaji tinggi dapat di ganti dengan orang pribumi terpelajar dengan gaji yang lebih kecil.

Apa sih reaksi dari pemerintah kolonial Belanda?

Pemerintah kolonial Belanda tidak menggunakan naluri ekonomi Laissez-faire dalam rangka meringankan ledakan bencana. Hal itu dapat dibuktikan dengan merekonstruksi produksi karet , menggunakan skema pembatasan dimana cukai penjualan yang lebih jauh merugikan pemilik perkebunan pribumi dibandingakn pemilik perkebunan yang lebih besar. (Nope Ekonomi Laissez-faire adalah : ekonomi pasar bebas, ekoniomi yang dikuasai swasta, tidak boleh dikuasai pemerintah  sc:Abbott P. Usher; et al. (1931). “Economic History–The Decline of Laissez Faire”.

Pihak Batavia juga mengalami kesulitan karna pada tahun 1929-1930 jepang mengisi 10% dari nilai total impor Indonesia. Belanda masih terpaku pada nilai emas hingga september 1936. Dengan adanya barang-barang murah dari Jepang menyebabkan depresi ekonomi yang melanda Indonesia menjadi berkurang. Namun pemerintah kolonial geram dengan penetrasi tersebut sehingga di hasilkanlah peraturan batasan impor bagi Jepang. Hal itu menyebabkan impor dari jepang menurun menjadi 25,4% dari yang dulunya 32,5%(1936) dan menjadi 14,4% (1938).

Dampak Depresi Ekonomi 1930 terhadap Indonesia

Dampaknya sangat serius, pengamat Belanda menyatakan bahwa rakyat Indonesia yang tadinya bekerja di sektor Industri kembali ke pekerjaan lamanya yaitu bertani untuk bertahan hidup tapi ada juga masyarakat yang tidak memiliki tanah sehingga malah menjadi pengangguran. Lahan yang tadinya untuk produksi gula diganti untuk menanam padi. Tapi produksi beras juga tidak menutupi kebutuhan makanan yang membuat kesejahteraan Indonesia dari tahun 1930 sampai tahun 1934 sangatlah menurun. 

Pada tahun 1937 pendapatan ekonomi meningkat lagi tapi tidak berdampak kepada pemerataan. Yang menjabat sebagai gubernur jendral pada tahun 1930 sampai 1936 adalah Bonifacius C. de Jonge, mantan mentri peperangan dan direktur royal Dutch Shell. Ia menetang bentuk nasionalisme.

Sc book: Ricklefs M C , 2008 ” Sejarah Indonesia modern 1200-2008″ Jakarta : Serambi 

Sc Web : https://tirto.id/krisis-malaise-depresi-besar-yang-pernah-menghancurkan-amerika-cudu

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *