Posted on 1 Comment

Kebijakan Etis part I

Kebijakan Belanda mengalami perubahan arah dan memiliki tujuan baru. Hal ini dikarenakan munculnya pernayataan-pernyataan keprihatinan atas kesejahteraan penduduk Hindia Belanda. Kebijakan baru ini dinamakan “Politik Etis”. Politik Etis ini merupakan suatu kebijakan yang menyatakan bahwa pemerintah kolonial memegang tanggung jawab moral bagi kesejahteraan Hindia Belanda yang telah banyak membantu Belanda meningkatkan devisa dan kemakmuran bangsanya.

Politik Etis berawal dari masalah-masalah kemanusiaan dan sekaligus pada keuntungan ekonomi. Kecaman-kecaman terhadap pemerintah Belanda berawal dai sebuah novel yang berjudul Max Havelaar (1860) dan dalam berbagai pengungkapan lainnya saling bermunculan menyuarakan suara yang sama. Orang-orang Belanda kian banyak yang mendukung pemikiran untuk mengurangi penderitaan rakyat Hindia Belanda.

max havelar. sc: wikipedia

Latar belakang lain pun muncul dari sisi perekonomian karena pada masa itu industri swasta Belanda memerankan peran yang sangat penting dan mulai melirik Hindia Belanda sebagai pangsa pasarnya yang potensial dan perlu adanya peningkatan standar hidup agar mereka bisa menjadi konsumen bagi produk-produknya. Oleh karena itu, adanya kepentingan bisnis yang terlibat dan mendukung dalam rangka terciptanya ketentraman, kenyamanan, modernitas, dan kesejahteraan. Para pejuang kemanusiaan pun membenarkan hal yang menurut kalangan penguasa diperkirakan akan sangat menguntungkan itu, sehingga lahirlah Politik Etis.

Pada tahun 1899, Van Deventer seorang ahli hukum yang pernah tinggal di Hindia Belanda selama tahun 1880-1897 menerbitkan sebuah artikel “Een Eereschuld” yang artinya ‘suatu utang kehormatan”, dalam sebuah jurnal Belanda de Gibs. Dia menyatakan bahwa negeri Belanda berutang kepada Hindia Belanda. Semua kekayaan yang sudah diperas dari Hindia Belanda merupakan sebuah utang yang harus dikembalikan dengan jalan memberikan prioritas utama kepada rakyat Hindia Belanda dalam semua kebijakan kolonial.

Van Deventer. sc: Wikipedia

Van Deventer memiliki posisi yang strategis di pemerintahan Belanda, Dia merupakan seorang penasehat pemerintah dan sebagai anggota parlemen Belanda. Sehingga pada tahun 1901, Ratu Wilhemina mengumumkan suatu penyelidikan terhadap kesejahteraan rakyat Hindia Belanda dan dengan demikian kebijakan Politik Etis resmi dijalankan. Pada tahun 1902, Alexander Idenburg diangkat menjadi Menteri Urusan Daerah Jajahan, dengan memegang jabatan ini dan memegang jabatan Gubernur Jenderal Hindia Belanda pula, Idenburg menerapkan Politik Etis, lebih daripada siapapun.

Pihak Belanda menyebutkan tiga prinsip dasar kebijakan Politik Etis ini yaitu, Pendidikan, Pengairan, dan Perpindahan Penduduk. untuk melaksanakan hal itu, pemerintah Belanda memerlukan dana yang diambil dari utang-utang pemerintah kolonial di Hindia Belanda yang mencapai 40 juta gulden diambil alih oleh Pemerintah Belanda, sehingga pemerintah kolonial yang bermarkas di Batavia tersebut dapat meningkatkan pengeluarannya tanpa harus dibebani utang lagi, Politik Etis pun mulai dijalankan.

 

 

 

 

 

Posted on Leave a comment

Deklarasi Balfour, 101 tahun Kolonialisasi Yahudi

            Pada tanggal 2 November 2019, tepat 101 tahun yang lalu seorang Sekretaris Luar Negeri Inggris, Arthur Balfour menulis dalam secarik kertas yang hanya berisikan 67 kata dan tersusun dalam 3 paragraf ini yang isinya kurang lebih pemerintah Inggris mendukung pendirian tanah air yang dijanjikan bagi Yahudi di Palestina, asalkan tidak merugikan hak sipil non-Yahudi disana. Deklarasi ini dikeluarkan pada 2 November 1917. Dokumen ini Nampak begitu singkat, namun dampaknya begitu besar bahkan hingga sekarang. Sejak saat itu, Yahudi yang kemudian menjadi negara Israel terus mencaplok lahan bangsa Palestina, menciptakan gelombang pengusiran masal, pembunuhan, dan tindak pelanggaran hak asasi lainnya.

replika Deklarasi Balfour, sc: Wikipedia

Deklarasi Balfour dilatarbelakangi dengan permintaan seorang Yahudi Inggris bernama Chaim Weizmann, ia merupakan seorang Yahudi Inggris yang berjasa dalam membuat formula senjata untuk membantu memenangkan peperangan. Atas jasanya Weizmann mendapat hadiah dari David Lloyd George (Cleveland, 2004, p. 243), dimana Weizmann menginginkan sebuah wilayah bagi Yahudi, perdana Menteri Inggrs David Lloyd George merasa mampu untuk memenuhi permintaan Weizmann dan memberikan wilayah Uganda di Afrika untuk umat Yahudi. Namun Weizmann menolak dan menginginkan sebuah wilayah Palestina sebagai “rumah” bagi umat Yahudi. Hal ini dikarenakan sebelumnya ada Perjanjian Sykes-Picot yang membuat Palestina menjadi milik Inggris atas kekalahan Turki Utsmani di PD I sehingga membuat Chaim Weizmann meminta hal tersebut yang akhirnya diterima oleh David George.

Jonathan Schneer menjelaskan ada beberapa alasan yang mendorong Inggris mengeluarkan deklarasi ini. Pertama, jajaran kabinet pemerintahan Inggris terlebih Llyod dan Balfour bersimpati dan ingin membantu Yahudi. Mereka percaya adanya masa seperti “Kedatangan Kedua” merujuk pada kembalinya Yesus Kristus dari surga ke bumi sebagaimana yang diajarkan dalam eskatologi Kristen. Serta alasan lainnya Deklarasi Balfour dibuat untuk membantu Inggris memenangkan perang. Orang-orang pemerintah Inggris percaya bahwa “Yahudi dunia” punya pengaruh bawah tanah yang besar—atas keuangan dunia, misalnya. Mereka berpikir pemodal Yahudi dari AS dapat membujuk Woodrow Wilson untuk membawa bala tentara AS dalam pusaran perang.

wilayah palestina dan israel. sc: wikipedia

Dan intinya, Sejak saat itu, Yahudi yang kemudian menjadi negara Israel terus mencaplok lahan bangsa Palestina, menciptakan gelombang pengusiran masal, pembunuhan, dan tindak pelanggaran hak asasi lainnya. Tentu ada banyak faktor yang mendorong lahirnya konflik abadi Israel-Palestina. Namun, Deklarasi Balfour tetap punya andil cukup besar yang menciptakan kondisi bagi minoritas Yahudi untuk mendapatkan superioritas di tanah Arab dan membangun negara dengan mengorbankan orang Palestina.

 

 

 

Posted on Leave a comment

Ratu Boko dalam Sejarah

Keraton Ratu Boko dibangun pertama kali oleh seorang Raja yang bernama Rakai Panangkaran, Raja kedua Mataram Kuno. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya sebuah prasasti yang terdapat di kompleks Keraton Ratu Boko ini, nama prasasti tersebut adalah prasasti Abhyagiri Vihara (Biara damai di atas bukit) berangka tahun 793 Saka dan ada tiga fragmen prasasti yang berkaitan, ditemukan di dekat pintu masuk kompleks, prasasti ini mencatat bahwa pendirian Vihara ini didedikasikan untuk Bodhisattva, yang mungkin adalah Avalokitervara atau Manjusri.

Keraton Ratu Boko ini dijadikan tempat untuk dirinya menepi dari urusan dunia, di masa tuanya dia menjadi pendeta Buddha di Biara Abhyagiri yang secara etimologis, kata Abhya artinya tanpa, hanaya artinya damai, giri artinya gunung. Apabila disatukan bermakna bukit atau gunung yang penuh kedamaian tanpa ada gangguan. Sementara itu, kursi kekuasaan Mataram diserahkan kepada putranya yang bernama Rakai Panaraban. Pada masa pemerintahan Rakai Panaraban, ada perkembangan dari bangunan keraton Ratu Boko ini dengan dibangunnya gapura dan tembok benteng serta stupa-stupa kecil disekitar Keraton Ratu Boko ini. Hal ini dibuktikan dengan adanya suatu tulisan dari prasasti emas yang di dalamnya terdapat kata Panarabwan, yang mungkin merujuk kepada Rakai Panaraban.

lalu, muncul sebuah fakta baru bahwa bangunan yang awalnya sebagai vihara Buddha ini diubah menjadi sebuah kediaman ataupun keraton dari seorang penguasa yang bernama Kumbhayoni sang penguasa Walaing. Kumbhayoni tentu beragama Hindu karena dalam prasasti Pereng Ia mendirikan sebuah candi yang bernama Candi Bhadraloka[1] yang merupakan Candi bercorak agama Hindu yang diperkuat dengna adanya temuan Arca Wisnu dan Dewi Sri.

kompleks Keraton Ratu Boko. sc: gpsdesawisata.info

Kompleks Keraton Ratu Boko ini terdiri dari Gapura, Parit, Paseban, Candi Pembakaran, Goa, Pendopo, Kolom, Keputren, Arca, Stupa, Lingga Yoni.

[1] Bhadra= untung, makmur, berkah. Loka= dunia.

 

sc:

  • Dana, I Wayan. 2013. Keraton Ratu Boko: Budaya & Ekologi. Yogyakarta: Lembah Manah.
  • Jurnal UIN Yogyakarta. “Ratu Boko, Sejarah, dan Potret Keadaannya”.
  • Wawancara dengan Pak Wiharjanto, General Manager Keraton Ratu Boko.
Posted on Leave a comment

Sekolah Dasar pada Masa Kolonial Belanda

Sekolah atau pendidikan menjadi satu hal yang penting dan mutlak untuk dipenuhi. Tanpa pendidikan mustahil manusia dapat mampu membangun peradaban gemilangnya.

Maka pada artikel ini akan membahas mengenai jenis sekolah dasar yang ada di Indonesia pada masa Kolonial Belanda. Penulis mengutip dari (Endar Wismulyani. Pendidikan Masa Kolonial. 2018). Jenis-jenis sekolah dasar pada masa Kolonial terdiri dari:

Pendidikan Tingkat Dasar

1. ELS (Eurospeesch Lagere School)

  • Diperlukan waktu 7 tahun untuk menyelesaikan pendidikan di sekolah ini. Sekolah ini menerapkan sistem di negeri Belanda, pada awalnya hanya anak orang Belanda dan orang Eropa saja yang bisa bersekolah disini. Tetapi, pada 1903 anak-anak pribumi golongan bangsawan serta orang Tionghoa diperbolehkan bersekolah disini. Namun kebijakan ini ternyata berdampak negatif, akhirnya dikembalikan lagi bahwa yang boleh bersekolah disana hanya orang Eropa.
  • Pemerintah kolonial lalu membuat sekolah khusus pribumi pada 1914 bernama Hollandsche-Inlandsche School (HIS). Sedangkan khusus orang Tionghoa didirikan Hollandsche-Chineesche School (HCS) pada tahun 1908.

2. Hollandsche Indlandsche School (HIS)

  • Sekolah ini didirikan khusus untuk para pribumi. Tingkatannya sama dengan Sekolah Dasar di era sekarang. Bahasa Belanda digunakan sebagai bahasa pengantar.
  • HIS diperuntukkan bagi golongan penduduk keturunan pribumi asli dan diperuntukan bagi anak bangsawan, pegawai negeri, dan tokoh-tokoh terkemuka. Waktu untuk menyelesaikan pendidikannya selama 7 tahun dan setelah lulusa bisa melanjutkan ke MULO.

3. Indlandsche School

  • Sekolah bumiputera yang bahasa pengantarnya adalah bahasa daerah di Hindia Belanda.
  • Pembelajaran di sekolah ini hanyalah membaca, menulis, dan menggambar.
Posted on 1 Comment

Peringatan Hari Santri

Asal-usul istilah Kata “Santri” ternyata berasal dari bahasa Sanskerta loh gaes.. oh iya ada juga yang berpendapat bahwa kata “Santri” berasal dari bahasa Jawa.

Pertama, kita akan kupas kata “Santri” dari bahasa Sanskerta. Di dalam kamus bahasa Sanskerta yang disusun oleh Dr. Purwadi, M.Hum & Eko Priyo Purnomo, SIP penulis menemukan ada kata “Cantrik” yang artinya Murid, Siswa, atau Santri di Padepokan.

Sedangkan menurut C.C. Berg, istilah “santri” berasal dari kata shastri yang dalam bahasa India berarti “orang yang mempelajari kitab-kitab suci agama Hindu”.

Pendapat lain, istilah “Santri” berasal dari bahasa Jawa, yakni cantrik yang bermakna “orang atau murid yang selalu mengikuti gurunya” (Nurcholis Madjid lewat buku Bilik-bilik Pesantren: Sebuah Potret Perjalanan. 1999).

para santri. sc: islamsantun.org

Mengapa kata “Santri” ini berasal dari bahasa Sanskerta dan erat hubungannya dengan agama Hindu? Menurut pendapat penulis, karena pada masa awal sebelum Islam masuk di Pulau Jawa, agama Hindu dan Buddha menjadi agama mayoritas di pulau Jawa bahkan di seluruh wilayah Nusantara kala itu. Karena penduduk Jawa sudah menganut ajaran agama lain, sehingga akan sulit menerima ajaran baru.

Maka, para Wali memiliki cara tersendiri dalam menyi’arkan agama Islam di Jawa yaitu melalui akulturasi dengan budaya yang telah ada di Nusantara kala itu. Salah satunya yaitu penggunaan pesantren yang awalnya sebagai lembaga pendidikan Hindu, menjadi lembaga pendidikan Islam.

Bisa dikatakan bahwa proses pengislaman budaya Nusantara oleh para Wali terdahulu dibarengi dengan proses penusantaraan nilai-nilai Islam, sehingga keduanya melebur menjadi entitas baru.

Lalu ada pertanyaan lain yakni mengapa peringatan hari Santri di Indonesia diselenggarakan pada tanggal 22 Oktober?

Singkatnya karena diberlakukannya Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015 tentang Hari Santri.

Lalu muncul pertanyaan baru, yaitu mengapa Presiden memilih tanggal 22 Oktober?

resolusi jihad. sc: Tirto.Id

Hal ini mengacu pada peristiwa di tanggal yang sama dan tahun berbeda yakni pada 22 Oktober 1945.  pada saat itu PBNU yang mengundang konsul-konsul NU di seluruh Jawa dan Madura yang hadir pada tanggal 21 Oktober 1945 di kantor PB ANO (Ansor Nahdlatul Oelama) di Jl. Bubutan VI/2 Surabaya, berdasar amanat berupa pokok-pokok kaidah tentang kewajiban umat Islam dalam jihad mempertahankan tanah air dan bangsanya yang disampaikan Rais Akbar KH Hasyim Asy’ari, dalam rapat PBNU pada 22 Oktober 1945 yang dipimpin Ketua Besar KH Abdul Wahab Hasbullah, menetapkan satu keputusan dalam bentuk resolusi yang diberi nama “Resolusi Jihad Fii Sabilillah”  (https://www.nu.or.id/post/read/72250/resolusi-jihad-nu-dan-perang-empat-hari-di-surabaya-)

karena seruan jihad yang disampaikan pada 22 Oktober 1945 oleh KH. Hasyi Asy’ari untuk menolak kedatangan sekutu yang ingin merebut kembali kedaulatan bangsa Indonesia. Maka, dijadikanlah hari tersebut sebagai hari Santri karena agar para santri khususnya dan rakyat Indonesia umumnya dapat meneladani semangat jihad umat Islam dalam mempertahankan Indonesia dari serangan bangsa lain.

Posted on Leave a comment

Metode Sejarah

Tahapan penelitian Sejarah menurut Kuntowijoyo yaitu:

  1. Pemilihan topik
  2. Heuristik
  3. Verifikasi
  4. Interpretasi
  5. Historiografi

Pemilihan Topik

  • Kedekatan Emosional : Pemilihan topik didasarkan pada hal-hal yang memiliki keterkaitan psikologis/emosional diri peneliti (asal daerah/etnis/agama, jabatan/aktivitas, hobi/minat, dll).
  • Kedekatan Intelektual : Pemilihan topik didasarkan pada hal-hal yang sifatnya rasional (ketersediaan sumber/kajian terdahulu, penguasaan metodologi, dll).

Beberapa hal yang harus diperhatikan:

  • Batasan spasial (wilayah mana yang akan diteliti? Desa? Kota? Provinsi? Lokal? Nasional? Internasional? dll)
  • Batasan temporal (periode apa yang akan diteliti? Zaman kuno? Kolonial? Pergerakan? Revolusi? Orde Baru? Kontemporer? dll)
  • Obyek yang akan diteliti (tokoh? Masyarakat? Peristiwa? Fenomena sosial? Kebijakan? Pemikiran? dll)

CATATAN: Pastikan kalian mengkaji suatu obyek dengan batasan yang jelas dan spesifik

Lalu dimana kita menemukan insprasi topik?

  • Indeks Buku
  • Daftar Pustaka
  • Catatan dalam karya sejarah (Footnote, Bodynote, Endnote)
  • Ensiklopedi
  • Majalah
  • Surat Kabar
  • Dokumen/Arsip
  • dll

Heuristik

  • Artinya tahapan pengumpulan sumber
  • Sumber sejarah berdasarkan bentuknya (Tertulis, artifak, lisan)
  • Sumber sejarah berdasarkan cara narasumber mendapatkan informasinya (primer, sekunder)
  • Sumber Primer: Sumber yang didapatkan langsung dari informan/pelaku peristiwa sejarah (sezaman dan setempat)
  • Sumber sekunder: Sumber yang tidak didapatkan langsung dari informan/pelaku peristiwa sejarah (tidak sezaman dan setempat)

berikut ini contoh sumber sejarah:

  • Buku
  • Jurnal Ilmiah
  • Majalah/Surat Kabar
  • Arsip (Undang-Undang, Staadsblad, Memorie van Overgave, Hoge Regering, dll)
  • Catatan Perjalanan
  • Karya Sastra (termasuk Serat)
  • Babad, Hikayat, dan naskah kuno lainnya
  • Wawancara
  • Foto
  • Peninggalan Bangunan
  • Film, dll

Apakah karya sastra kuno dapat dijadikan sumber sejarah?

  • Karya sastra dan naskah kuno dapat digunakan sebagai sumber sejarah
  • Penggunaan karya sastra sebagai sumber sejarah lebih menekankan pada nilai-nilai yang terkandung dalam teks bukan informasi faktual di dalamnya
  • ALASAN: karya sastra seharusnya dibaca sebagai sistem semiologi yang memuat simbol-simbol sebagai refleksi nilai-nilai masyarakat atau semangat zaman yang bersangkutan daripada sebuah sistem fakta yang tersusun secara ilmiah dan sistematis
  • Naskah kuno seperti babad, hikayat, dan sebagainya dapat digunakan sebagai sumber sejarah
  • Naskah kuno, meskipun kerapkali mengandung mitos dan sarat kepentingan politik tetaplah mengandung informasi-informasi faktual mengenai masa lampau
  • Sejarawan harus menggunakan karya pembanding yang sezaman (catatan perjalanan orang Eropa atau Tiongkok, dll) untuk menguji informasi yang terdapat dalam naskah kuno
  • Sejarawan juga dituntut menguasai ilmu-ilmu bantu dalam mengkaji teks (hermeneutika, filologi, dll) agar mampu memahami naskah kuno secara komprehensif

Verifikasi

  • Tujuanya ialah untuk menguji kredibilitas sumber-sumber yang didapatkan dalam tahap heuristik untuk dapat digunakan dalam penelitian sejarah atau tidak
  • Verifikasi sangat penting dilakukan agar peneliti bisa mendapatkan sumber sejarah yang kredibel
  • Verifikasi (Kritik Sumber) terdiri dari dua macam yakni kritik ekstern dan kritik intern

EKSTERN

  • Kritik ekstern dilakukan untuk melihat apakah sumber yang kita dapatkan asli atau tidak
  • Kritik ekstern dapat dilakukan dengan cara mengecek kertas, tinta, gaya tulisan, bahasa, kalimat, ungkapan, serta kata-katanya
  • Aspek utama yang diperhatikan dalam proses ini adalah kondisi fisik sumber yang didapatkan
  • Hal tersebut sangat berguna terutama ketika mengecek sumber primer

INTERN

  • Kritik Intern dilakukan setelah proses kritik ekstern.
  • Kritik intern dilakukan untuk melihat apakah isi yang terdapat dalam sumber tersebut dapat dipercaya atau tidak
  • Hal tersebut dilakukan dengan cara membandingkanya dengan sumber sejarah lain yang relevan.

Interpretasi

  • Merupakan tahapan saat sejarawan melakukan penafsiran terhadap data yang terverifikasi untuk mendapatkan fakta sejarah
  • Fakta sejarah? : interpretasi sejarawan terhadap sumber sejarah
  • Fakta sejarah tidak sama dengan fakta (kebenaran obyektif) yang benar-benar terjadi di masa lampau
  • Sejarawan dapat merekonstruksi masa lalu secara kredibel, akan tetapi sejarawan tidak dapat secara sempurna mengetahui apa yang benar-benar terjadi di masa lalu
  • Sejarawan juga harus mereduksi pandangan subyektif dalam menafsirkan sumber
  • PADA AKHIRNYA: Sejarawan harus kritis dalam mengungkap fakta sejarah dan menghindari sikap fanatis serta dogmatis

YANG HARUS DIPERHATIKAN

  • Pahami siapa yang memproduksi/menulis?
  • Pahami konteks yang melatarbelakangi kemunculan suatu teks/sumber sejarah (Bagaimana latar zaman saat teks tersebut diproduksi?)
  • Pahami bahasa teks/sumber sejarah (ejaan, diksi, kaidah lingustik)
  • Pahami teori serta metode yang relevan untuk menganalisis sumber sejarah (missal: analisis wacana, hermeneutika, dll)

CONTOH

  • PELAKU: Ditulis oleh Semaoen seorang aktivis pergerakan radikal
  • KONTEKS: Ditulis bulan September 1918 saat sedang muncul polemik mengenai Indie Weerbaar meskipun kondisi rakyat bumiputra sedang sengsara akibat Perang Dunia I
  • BAHASA: pahami istilah asing seperti zelfbestuur (otonomi); kaoem oeang (kaum kapitalis); kromo (rakyat miskin)
  • TEORI DAN METODE: Dengan menggunakan metode analisis wacana, terlihat jika teks tersebut memihak kaum kromo dan menyerang kaoem oeang serta pemerintah kolonial (menunjukkan ideologi sosialisme)

Historiografi

  • Sejarawan harus memperhatikan prinsip KRONOLOGIS dalam menyusun karya sejarah
  • Selain itu, sejarawan juga harus memiliki kemampuan pengungkapan bahasa yang baik (diksi, struktur kalimat, dsb)
  • Penulisan sejarah juga harus argumentatif yang disertai dengan bukti-bukti akurat
  • Setiap karya sejarah HARUS MENCANTUMKAN SUMBER